[Review] Keluarga Cemara: Minim Harta Kaya Cinta

Selamat Malam! Jadi semuanya, saya membuka tahun yang baru ini dengan tontonan mengharu biru yang sangat 'can relate' buat saya. Sungguh. Film yang mengingatkan saya tentang semua yang sudah keluarga saya lewati, turunan curam dan tanjakan yang beratnya bukan main. Ah, baru saja menulis prolog, bulu roma sudah ancang-ancang berdiri.


Apabila belakangan ini kita dibuat gempar dengan webseries Sore: Istri dari Masa Depan dan Kisah Cinta 3 Episode, untuk informasi pembuka saja, dua karya itu disutradarai oleh Yandy Laurens, yang baru saja mengorbitkan film panjang pertamanya, Keluarga Cemara.

Yandy cenderung luar biasa untuk memutuskan film adaptasi sebagai karya pertamanya. Yang lebih tidak biasa, dia memilih genre keluarga. Entah kenapa saya langsung teringat Riri Riza yang membuat film karya individual pertamanya Petualangan Sherina. Mereka memilih genre yang sama. Yandy menghantarkan genre cinta-cintaan lewat jalan yang tak biasa lewat webseriesnya. Sementara lewat Keluarga Cemara, ia berjalan berlawanan arah dengan menghadirkan genre tidak biasa yang penuh cinta.

Cerita yang ditawarkan sederhana, tentang Keluarga yang tadinya masuk kelas menengah ke atas harus tiba-tiba berubah menjadi minim harta. Sangat tiba-tiba dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Yandy menulis skenarionya bersama Gina S. Noer dengan matang. Gaya adaptasi yang diberikan mirip Galih dan Ratna (2017) milik Lucky Koeswandi. Mereka seperti menghidupkan nuansa lama dalam dimensi zaman sekarang. Waktu benar-benar seperti berjalan pada saat ini, tapi angin yang tertiup seperti angin pada tahun-tahun dahulu, di mana kisah yang diadaptasi dibuat. Yandy dan Gina membuat dialog-dialog terucap dengan pilihan kata yang disokong oleh diksi yang tepat. Tidak dibuat-dibuat dan dipaksakan untuk terdengar membangun cerita. Dialog pada film ini bukanlah jadi sosok yang memberi tahu penonton, atau bahkan menggurui. Dialog yang keluar dalam film ini mengajak penonton untuk mencernanya dalam-dalam, sampai-sampai tak sadar bahwa pelupuk sudah digenangi air. Lewat tangan Yandy, Keluarga Cemara menjadi sebuah roaller coaster yang membuat penontonnya terbawa oleh setiap gerakan, belokan, tanjakan, dan turunan lintasannya. Kita hanya benar-benar bisa pasrah di bangku penonton, menatap layar dengan mata yang sudah ditahan-tahankan agar jangan sampai mbrambang (berkaca-kaca) melihat semuanya terjadi begitu saja. Film ini tidak membuat kita menerawang seperti apa akhirnya, tapi membuat kita mencoba berpikir dengan rasional bagaimana melewatinya. Emosi dan tempo yang dihadirkan begitu dinamis dan tersusun rapi, tapi tetap tidak terduga pada beberapa bagian. 

Film ini sangat emosional terutama bagi orang-orang yang tahu bagaimana rasanya. Dan bagi mereka yang tidak tahu, maka film ini akan memberi tahu, secara gamblang tetapi halus. Kita akan dibuat mengiyakan semua keputusan yang terjadi dalam film ini. Tidak ada yang membuat kita bergidik atau mengumpat para pemeran atas keputusan-keputusan bodoh dan konyol yang hanya bertujuan mendramatisasi keadaan. Tidak, Keluarga Cemara tidak perlu semua itu. Yandy mengemasnya dengan sangat tepat untuk ditonton pada zaman sekarang.
Dari segi pemeranan, Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir bermain luar biasa. Mereka berperan sebagai abah dan emak dengan emosi yang akan membawa memori kita akan orang tua. Gestur, keputusan bahkan cara-cara menyembunyikan perasaan yang berusaha mereka sampaikan begitu tepat sasaran. Meskipun sebenarnya Ringgo dan Nirina dapat dikatakan terlalu 'abah dan emak' dari segi perawakan, tapi mereka secara berhasil menghadirkan ke depan layar bagaimana keruhnya keadaan yang sedang dialami abah dan emak. Adhisty Zara, atau Zara JKT48 juga menunjukkan bagaiman culturalshock yang sangat patut dialami oleh generasinya bila mengalami kejadian serupa dengan sangat natural. Dinamika emosinya sampai kepada penonton. Sementara Widuri, putri pasangan Dwi Sasono dan Widi AB3, bukan lagi dia sedang berperan, tapi dia sedang menjelma menjadi Ara yang kita lihat bersama-sama di film ini. Dia menjadi Ara yang polos, dan kekanak-kanakan seperti seharusnya. Widuri tidak seperti sedang berakting dan mengerahkan segala daya kemampuan untuk bisa memerankan karakter Ara. Ini adalah salah satu akting sekaligus karakter terbaik untuk anak-anak yang jarang sekali diangkat.

Eros Efilin, bermain sempurna pada tata artistik. Bagaimana ia merealisasikan ide kehadiran becak yang mungkin datang dari Yandy, serta rumah tua yang tidak hanya membawa suasana pelik dan runyam, tetapi juga berbagai kerapuhan di dalamnya yang menujukkan bahwa keluarga ini juga berada pada titik paling rapuh. Untuk informasi, Eros juga bekerja pada tata artistik Petualangan Sherina bersama Miles Films. Ifa Fachir mengisi relung musik film ini dengan berbagai musik indie yang klasik dan lagi-lagi merupakan sebuah keputusan yang tepat. Musik-musik ini selain akan membantu penonton mengurai air mata, akan membuat para generasi yang mengetahuinya turut bersenandung, dan mereka yang tidak tahu akan segera mencari tahu what the song is this. Sinematografi film ini bekerja cukup baik, dan terasa begitu sangat dari sisi festival tastenya. Meskipun beberapa adegan terlihat pergeseran atau zooming yang masih kadang mengganggu, tapi secara keseluruhan, film ini tidak merusak mata.

Film yang menceritakan keluarga yang tadinya mapan berkecukupan kemudian harus kehilangan harta berharganya ini sekali lagi saya acungkan jempol empat sekaligus, karena cerita dalam tiap sequence yang beragam dan mewakili berbagai kondisi yang mungkin terjadi.

Harta yang paling berharga, adalah keluarga~

1 comment:

  1. Agen Live Games/Live Casino INEMTOTO

    * Promo Dan Bonus Live Game/Live Casino:
    - New Member 10%
    - Cashback 5%
    - Refferal 2%
    - Tambahan Cashback Up To 5%

    Diskon Togel Terbesar
    2D Diskon 29%
    3D Diskon 59%
    4D Diskon 69%

    * Promo Dan Bonus Togel:
    - Bonus Kebalikan 2D x 2
    - Bonus Kebalikan 3D x 5
    - Bonus Kebalikan 4D x 10
    - Cashback 1%

    WA: +6287780529637
    BBM: inemtoto
    FB: inemtoto
    Twitter: @inemtoto

    ReplyDelete

Powered by Blogger.